Pengawas UN Diamuk Siswa

13663357372125104904

Hari terakhir UN menyisakan cerita. Datangnya cerita ini dari kota kecil Jember, tepatnya di sekolah MAN 2 Jember. Ya, kemarin (18 April 2013) di sekolah ini ada kejadian yang membuat saya mengelus dada.
Ada guru pengawas UN yang dipukuli oleh para siswa, itulah cerita yang ingin saya tuliskan.
Guru laki-laki tersebut berinisial R, seorang guru bergelar S2, pengawas dari SMAN 5 Jember yang ditempatkan di MAN 2. Sementara yang melakukan aksi pemukulan adalah para siswa MAN 2 Jember.
Menurut penuturan Ibu Tusdiyah kepada saya, kejadian tersebut segera dilerai oleh seorang polisi yang sedang piket mengamankan jalannya UN di MAN 2 Jember, dibantu dengan beberapa guru lainnya. Ibu Tusdiyah sendiri adalah guru dari SMA Pahlawan Jember yang juga menjadi pengawas di sana.
Dikabarkan bahwa Bapak R terlalu ketat saat menjaga UN. Beliau tidak bisa mentolerir gerakan-gerakan tubuh siswa. Dimata Bapak R, semua gerak gerik siswa masuk kolom mencurigakan. Kabar lain yang saya dengar, Bapak R beranggapan bahwa pengawas dari MAN 2 Jember juga berlaku sama ketika menjaga UN di SMAN 5 Jember (tempat beliau mengajar).
Kejadian di atas mengingatkan saya pada kata-kata Cyelvia Je Atmanegara, seorang guru dari kota Bondowoso. Ini yang dia katakan:

“Bukan hanya siswanya yang stress mas, tapi gurunya nggak kalah stress-nya. Terutama untuk guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ya seperti aku ini. UN Bahasa Indonesia selalu jadi menu hari pertama dan jam pertama pula. Jadi bisa dipastikan, perasaan siswa yang takut, grogi, bingung…campur aduk jadi satu, kayak gado-gado. Semoga diberi kelancaran dan kesuksesan buat mereka, Amin.”

Hmmm, ternyata tekanan tidak hanya ada di hari pertama UN. Saya jadi berpikir tentang kawan-kawan muda kelas dua belas yang baru akan memulai UN. Semoga baik-baik saja, dan semoga tidak terulang kejadian seperti di Jember. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *